Gejala Virus Corona: Gagalnya Sistem Pernapasan


April 8, 2020

Virus corona menyerang siapa pun tanpa memperhatikan strata sosial. Begitu seseorang terpapar, gejala virus corona akan muncul dalam waktu yang berbeda-beda. Mulai dari dua hingga 14 hari, gejala awal berupa demam tinggi akan terasa. Diikuti oleh batuk kering, sakit kepala, dan dalam kasus yang ekstrem dapat berdampak pada gagalnya sistem pernapasan yang berujung kematian.

Menurut penelitian WHO yang bekerja sama dengan tim ilmuwan Cina per tanggal 20 Februari, coronavirus disease (COVID-19) 80% kasus terkonfirmasi menunjukkan gejala ringan, 14% di antaranya menunjukkan gejala akut, dan hanya 6% yang menunjukkan tingkat kritis. Gejala akut yang dimaksud biasanya ditunjukkan dengan perlunya asupan oksigen akibat sulit bernafas. Sedangkan gejala kritis dapat dilihat dari gagalnya sistem pernapasan dan organ-organ lainnya.

Gejala, timeline, dan perawatan untuk kasus COVID-19 cukup unik karena sangat bergantung pada keadaan individu. Ditambah dengan masa inkubasi yang cukup lama -hingga 14 hari, banyak kasus yang tidak terdeteksi sebelum dilakukannya tes. Namun perlu diketahui bahwa gejala yang sangat umum dilaporkan adalah demam tinggi di atas 38oC. Sebagaimana yang dilaporkan oleh tim gabungan WHO-China, 89% korban terjangkit merasakan demam di masa awal, dengan 44% baru merasakannya saat sudah didiagnosis positif corona. Di beberapa kasus yang lain, diare, mual, dan pencernaan tidak nyaman juga dirasakan dalam kurun waktu dua hingga lima hari, sebelum gejala yang berkaitan dengan sistem pernapasan seperti sesak napas dan nyeri di dada mulai terasa.

Lebih detail, ketika corona virus mulai menyerang paru-paru, mereka akan mulai merusak cilia, bagian paru-paru yang berperan dalam menjaga saluran udara terbebas dari lendir dan kotoran. Ketika sel di daerah cilia terinfeksi dan mati, badan seseorang akan mulai kehilangan kemampuannya dalam menjaga kebersihan paru-paru. Sel yang mati akan menginfeksi sel sehat di sekitarnya dan menghasilkan peradangan. Peradangan tersebut akan menyebabkan rusaknya jaringan, dan jaringan yang rusak akan kembali menginfeksi jaringan yang rusak. Proses tersebut terus berlanjut hingga sekitar lima hari, sampai korban merasakan sulitnya bernapas. Gejala lain yang muncul di tahap ini adalah kelelahan akibat rendahnya asupan oksigen di dalam darah. Selain itu, beberapa pasien juga melaporkan otot yang melemah, menggigil, dan hidung berlendir.

Baca Juga :  Paket Lengkap 4 Menu Buka Puasa Sederhana dan Praktis yang Wajib Dicoba

Setelah hari ke lima, korban yang terlah terjangkit virus corona biasanya semakin sulit bernapas dan akan membutuhkan pertolongan medis pada hari ke tujuh. Bagi penderita dengan kategori ringan, biasanya akan mulai mengalami pemulihan saat tahap ini. Namun untuk pasien dengan golongan akut dan kritis akan berlanjut ke tahap pneumonia dikarenakan gagalnya proses penyembuhan sel-sel yang terinfeksi. Untuk gejala ringan, umumnya membutuhkan waktu hingga dua minggu hingga virus corona benar-benar menghilang dari tubuh. Sedangkan untuk kasus yang lain, gejalanya akan semakin memburuk, mengarah pada acute respiratory distress syndrome (ARDS).

ARDS adalah penyakit yang muncul akibat menumpuknya cairan pada paru-paru yang disebabkan oleh peradaban. Peradangan akibat corona virus akan memicu sel imun untuk diproduksi dengan skala besar, dan mulai membunuh sel-sel di daerah terinfeksi. Sialnya, sel-sel sehat pun biasanya akan dianggap sakit dan ikut dimusnahkan. Keadaan ini akan sangat berbahaya dan sering berakibat pada kematian akibat gagalnya pernapasan karena paru-paru sudah tidak bias menyuplai oksigen ke sekujur tubuh.

Kasus kematian dalam COVID-19 umumnya diakibatkan oleh ARDS. Bahkan untuk pasien yang selamat, paru-paru mereka tidak akan sama kondisinya dengan keadaan normal. Dalam beberapa penelitian, korban jiwa yang meninggal biasanya tidak orang-orang yang gagal bertahan dari tahap ini ARDS, atau pada kurun waktu 14-19 hari setelah terjangkit virus corona. Lebih lanjut tentang gejala virus corona bisa dilihat di sini.

Related